REVISI PROPOSAL
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragam budaya, suku,
ras dan agama. Agama memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Agama menjadi perdebatan yang pelik ketika berada di lingkup akidah. Setiap
wilayah di Indonesia memiliki perbedaan mayoritas dan minoritas pemeluk agama.
Perbedaan terjadi akibat penyebaran agama yang merupakan bagian dari sejarah
porkembangan dan pertumbuhan Indonesia.
Indonesia
adalah negara kepulauan yang terdiri atas lebih dari 17.800 pulaubesar dan
kecil.Pulau-pulau tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki
penduduk terbesar keempat di dunia, yaitu sekitar 200.000.000 penduduk pada
tahun 1997. Agama-agama besar dunia hidup di Indonesia dengan penganut Islam
yang merupakan agama mayoritas. Jumlah penganutnya mencapai 87,21%. Penganut
agama Protestan 6,04%, Khatolik 3,58%, Hindu 1,83%, Budha 1,02% dan lainnya,
termasuk aliran kepercayaan 0,32%.[1]
Kehidupan beragama di Indonesia
mendapat tempat yang sangat sentral. Setiap warga negara dibebaskan untuk
memilih dan mempraktikan kepercayaannya. Kebebasan tersebut tidak menyimpang
dari ideologi yang dianut Indonesia yaitu Pancasila. Pengakuan adanya
keberagaman agama ditandai dengan saling menghormati dan menghargai pemeluk
agama lain, walaupun setiap agama mempunyai misi menyebarkan agamanya masing-masing.
Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam QS. An-Nahl (16) : 125 yakni, “Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk”.[2]
Berdasarkan kutipan tersebut, setiap muslim diwajibkan untuk
menyerukan agamanya. Dalam agama Islam penyebaran agama ini disebut dakwah. Dakwah tersebut
dilakukan oleh seorang pendakwah yang dikenal dengan nama Da’i. Sedangkan dalam
agama Kristen, penyebaran agama disebut dengan konversi agama Kristen. Konversi
yang dilakukan oleh misionaris atau penyebar ajaran agama Kristen adalah berupa
pengkristenan atau permurtadan. Penyebaran agama Kristen dilakukan dengan berbagai
upaya. Tujunnya adalah untuk melancarkan aksi Kristenisasi. Hal ini dijelaskan
dalam firman Allah (QS.
Al-Baqarah (2) : 120):
`s9ur 4ÓyÌös? y7Ytã ßqåkuø9$# wur 3t»|Á¨Y9$# 4Ó®Lym yìÎ6®Ks? öNåktJ¯=ÏB 3 ö@è% cÎ) yèd «!$# uqèd 3yçlù;$# 3 ÈûÈõs9ur |M÷èt7¨?$# Nèduä!#uq÷dr& y÷èt/ Ï%©!$# x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$# $tB y7s9 z`ÏB «!$# `ÏB <cÍ<ur wur AÅÁtR ÇÊËÉÈ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah
Itulah petunjuk (yang benar)". Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi
menjadi pelindung dan penolong bagimu.[3]
Berdasarkan
pernyataan diatas, pemeluk agama Kristen akan terus berupaya untuk
mengkristenisasi pemeluk agama lain. Gerakan kristenisasi yang dilakukan oleh
misionaris adalah sebagai berikut.
Mereka menulis buku-buku tentang Islam dari
berbagai aspeknya, termasuk pembahasan tentang Alquran, Rasulullah Saw. danaliran-aliran
dalam Islam. Mereka juga melakukan pendekatan budaya, yakni dengan melalui buku
bacaan, tayangan film,sistem ekonomi, ketenagakerjaan, pola perkawinan,hingga
budaya pemerintahan. Selain itu, penetrasi budaya juga mereka lakukan terhadap
khalayak luas, terutama masyarakat yang tertimpa musibah. apabila komunitas Islam
membutuhkan bantuan, ia gunakan ini sebagai ajangg untuk menanamkan investasi
jasa kemanusian.[4]
Berdasarkan observasi penulis adanya upaya-upaya
kristenisasi yang dilakukan pemeluk agama Kristen dalam bentuk gerakan
misionaris terhadap masyarakat desa Sumber Agung :
Pemeluk agama Kristen di desa Sumber Agung awalnya
ada beberapa keluarga. Berjalannya waktu, ada beberapa orang yang pindah ke
desa sebelah. Bahkan ada yang menikah dengan warga desa lain, kemudian menetap
di desa tersebut. Sekarang ini hanya tinggal satu keluarga, yakni keluarga
bapak Jiman. Jiman tinggal bersama istrinya. Mereka adalah pemeluk agama
Kristen Katolik. Mereka memiliki dua orang anak. Anak pertamanya sudah menikah dan
menetap di desa lain. Anak keduanya masih bujang dan sekarang sedang bekerja.
Mereka sepertinya beribadah pada setiap hari Minggu, karena pada setiap Sabtu
malam rumah mereka selalu sepi. Dahulu ada seorang pemeluk agama Kristen yang
menikah dengan pemeluk agama Islam. Perempuan tersebut akhirnya berpindah
agama, tetapi mereka tetap ikut merayakan
hari raya Idul Fitri bersama keluarga mereka.[5]
Di desa Sumber Agung telah terjadi upaya kristenisasi melalui
pernikahan berbeda agama. Pernikahan tersebut menyebabkan permurtadan bagi
pemeluk agama Islam. Permurtadan yang terjadi merupakan bagian dari kurang
kokohnya keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam diri pemeluk agama Islam tersebut.
Pernikahan berbeda agama bisa terjadi akibat pemeluk agama Islam yang berada
pada tingkatan akidah taklid (ragu). Tingkatan taklid adalah tingkatan akidah
seseorang yang tidak mempunyai pendirian dan hanya ikut-ikutan.[6]
Mereka akan mudah masuk ke dalam jebakan dan akhirnya berpindah keyakinan.
Jiman adalah seorang pensiunan PNS, sedangkan
sang istri adalah seorang pedagang sekaligus memproduksi tempe yang dijual di
pasar Sumber Agung. Kini istri Jiman sudah tidak lagi berjualan lantaran usia
yang sudah tidak muda lagi. Pekerjaan sehari-hari mereka saat ini adalah
bertani, yaitu menanam jagung atau padi. Jiman dan istrinya adalah sosok yang memiliki
kepribadian baik. Disaat ada warga sekitar yang sedang mengalami musibah
seperti, salah satu keluarnya meninggal. Mereka selalu memberikan santunan
berupa uang dengan nominal cukup besar pada masyarakat yang sedang tertimpa
musibah tersebut.Selain itu, ia juga memperbolehkan siswa-siswi di SD (berada
di depan rumahnya) memparkirkan sepedanya secara gratis di halaman rumah. Sikap
sehari-hari keluarga Jiman sangat baik, ramah,dan dermawan. Saat mereka sedang
mengadakan syukuran, mereka selalu memberikan sedekah berupa makanan kepada
masyarakat sekitar. [7]
Selain permurtadan, muncul gerakan dalam
bentuk perdagangan dan bantuan sosial. Ini merupakan pergerakan kristenisasi
melalui penetrasi budaya, dengan memanfaatkan situasi yang terjadi di sekitar.
Penetrasi budaya memang sebuah objek yang mudah di bubuhi dengan niat lain. Uang
atau materi merupakan hal pokok yang dibutuhkan oleh manusia, karena itu banyak
manusia yang terjerat olehnya. Kristenisasi melalui penetrasi budaya tidak akan
berhasil jika masyarakat sendiri peka dan kritis atas pergerakannya.
Sebagaimana contoh salah satu warga Desa Sumber Agung bahwa ia tidak menyadari
adanya upaya-upaya kristenisasi yang dilakukan oleh pemeluk agama Kristen.
Ketika diberikan sebuah makanan warga menerima
dengan senang hati. Tidak pernah terlintas dalam pikiran salah satu warga yang
bernama Yuyun tentang bagaimana cara memasak makanan ini dan apakah makanan ini
tidak mengandung hal-hal yang haram?. Ia mengakui bahwa selalu menerima,
berterima kasih serta memakannya tanpa rasa curiga. Dahulu ketika istri Jiman berdagang
tempe. Tempe yang dibuatnya memang terkenal enak. Namun dagangan tersebut lama-kelaman
kurang diminati karena banyak warga sekitar yang takut tempe tersebut
mengandung najis ataupun haram dimakan. Karena mereka memelihara hewan peliharaan
yakni, seekor anjing. Untuk beribadah mereka adalah salah satu gereja di daerah
Bantul. Bantul adalah daerah yang terletak tidak jauh dari desa tersebut.
Bantul merupakan tempat sanak saudaranya tinggal. Di Desa Sumber Agung sendiri
tidak terdapat sebuah gereja, karena itu setiap beribadah, mereka selalu pergi
ke Bantul. Di desa Sumber Agung warganya saling menghadiri ketika ada perayaan
Hari Raya. Misalnya Hari Raya Idul Fitri, pemeluk agama Kristen ikut merayakan.
Perayaanya dengan cara menghadiri atau bersilaturahmi ke rumah-rumah warga
layaknya budaya pemeluk agama Islam. Begitu sebaliknya, jika ada perayaan Natal,
masyarakat sekitar rumah bapak Jiman. Mereka kerumahnya untuk merayakan hari
tersebut.[8]
Berdasarkan keterangan tersebut, ditemukan adanya gerakan misionaris
yang dilakukan oleh pemeluk agama Kristen kepada masyarakat desa Sumber Agung. Maka
untuk mengantisipasi gerakan tersebut, diperlukan adanya peran seorang Da’i. Antispasi
ini dilakukan sebagai upaya meredam dan memblokade pergerakan dari misionaris supaya
tidak terjadi perpindahan akidah.
Berdasarkan dengan latar belakang yang sudah
diuraikan, penulis akan meneliti tentang peranan Da’i dalam mengantisipasi kristenisasi
di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur.
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, pertanyaan penelitian yang akan
dilakukan adalah bagaimana peran Da’i dalam mengantisipasi kristenisasi di Desa
Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang ?
C. Fokus Penelitian
Melihat
banyaknya permasalahan mengenai kristenisasi di Indonesia.
Penulis
akan memfokuskan tempat penelitian di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang,
dengan fokus teliti peranan Dai. Peranan Da’i disini adalah hal-hal yang
dilakukan dalam memainkan sebuah perannya. Ini dimaksudkan agar penulis lebih
fokus untuk meneliti terkait peranan Da’i dalam mengantisipasi kristenisasi di
Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang.
D. Tujuan dan Manfaat
Penulisan
1.
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui peranan Da’i dalam
mengantisipasi kristenisasi di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung
Timur.
2.
Manfaat Penulisan
a.
Manfaat Teoritis
1)
Bagi penulis, memberikan pengetahuan tentang peranan Da’i dalam
mengantisipasi kristenisasi di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung
Timur.
2)
Bagi mahasiswa, memberikan wawasan yang luas terutama kepada mahasiswa
IAIN Metro khususnya Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
b.
Manfaat Praktis
1)
Bagi Da’i, memberikan wawasan dalam mengantisipasi kristenisasi di
Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur.
2)
Bagi tokoh agama, memberikan pengetahuan tentang cara mengantisipasi
kristenisasi di Desa Sumber Agung Metro Kibang Lampung Timur.
E. Penelitian Relevan
Penelitian relevan berisi tentang uraian secara sistematis mengenai
hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji[9]. Bagian
ini memuat daftar hasil penelitiaan yang telah diteliti oleh mahasiswa yang telah melakukan penelitian
sebelumnya, kemudian membandingkan apakah penelitian yang akan peneliti lakukan
sudah diteliti sebelumnya atau belum.
Berikut
ini adalah sumber penelitian tentang mengantisipasi kristenisasi :
1.
Resa
Fitriani yang berjudul “Metode Dakwah Bil-Lisan Dalam Pencegahan Kristenisasi
Di Desa Wawasan Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan”. Dalam penelitian
ini jenis dan sifat penelitian yang
digunakan adalah penelitian lapangan dan deskriptif. Dalam menganalisa data penulis
menggunakan diskriptif dengan tabulasi silang antara sampel yakni masyarakat Dusun
Cinta Jaya Desa Wawasan Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan dengan
proses pembuatan pertanyaan dan indikatornya. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.[10]
Relevansi penelitian diatas dengan penulis adalah sifat dan jenis
penelitian yang digunakan yakni, lapangan dan diskriptif. Perbedaannya terletak
pada teknik menganalisa data yang digunakan dalam penelitian. Penulis
menggunakan analisa triangulasi sedangkan penelirian diatas menggunakan analisa
diskriptif dengan tabulasi silang.
2.
Fitri Budi Utami yang berjudul
“Strategi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Dalam Mengantisipasi Gerakan
pemurtadan di Kalioria tahun 2012”. Jenis penelitian ini adalah kualitatif
dengan metode pengumpulan data melalui dokumentasi, interview, dan observasi.
Tujuannya untuk mengetahui atau menggambarkan
strategi yang dilakukan oleh Dakwah Dewan Dakwah dalam mengantisipasi gerakan
pemurtadan di Banyumas. Hal itu diharapkan mampu menambah wawasan dan
pengetahuan tentang pemikiran Dewan Dakwah serta menambah wacana bagi dunia
keilmuan terutama dalam strategi yang yang dilakukan oleh Dewan Dakwah
Islamiyah Indonesia dalam mengantisipasi gerakan pemurtadan. Kegiatan Dewan
Dakwah dalam pembendungan terhadap pemurtadan antara lain pembangunan Masjid,
Sekretariat, Pondok Pesantren Mahasiswa, Sekolah. Strategi yang digunakan Dewan
Dakwah dalam menjalankan misinya kepada masyarakat Kaliori yaitu melalui
berbagai macam strategi dan pendekatan antara lain; strategi internal-personal,
eksternal-institusional dan pendekatan kultural masyarakat serta pendekatan
struktural (pemerintahan). Hanya saja usaha kegiatan dakwahnya lebih kepada
pendekatan kultural.[11]
Berdasarkan konsep diatas, relevansi penulis adalah fokus pada variable
bebas yakni, mengantisipasi gerakan permurtadan yang dilakukan oleh pemeluk
agama Kristen. Selain itu, jenis penelitian dan metode yang digunakan juga
sama. Perbedaannya, Fitri fokus pada variable terikat yakni, strategi dakwah
yang digunakan untuk mengantisipasi gerakan tersebut.
3.
Ratna Sari yang berjudul “Peran Ustad Abu Deedat Syihab Dalam
Mengantisipasi Gerakan Permurtadan Melalui FAKTA” tahun 2008.
Penelitian ini bertujuan untuk mengantisipasi
pergerakan permurtadan yang dilakukan oleh pemeluk agama Kristen melalui sebuah
forum perkumpulan yang dinamakan Forum Anti Gerakan Permurtadan (FAKTA).
Antipasi tersebut dengan melakukan pembinaan untuk memperkuat akidah. Banyak metode
dakwah yang digunakan oleh ustad Abu Deedat diantaranya dakwah bil lisan yakni
dengan menjadi pemateri dalam berbagai kegiatan konsultasi.[12]
Berdasarkan pernyataan
diatas, relevansi penulis fokus pada peranan Abu Deedat sebagai seorang dai
dalam mengantisipasi gerakan permurtadan. Perbedaannya Ratna Sari fokus pada
gerakan Abu Deedat di dalam sebuah komunitas yang disebut FAKTA sebagai metode
untuk mengantisipasi gerakan permurtadan.
LANDASAN TEORI
A. Peran Da’i
1.
Pengertian Da’i
Kata Da’i berasal dari bahasa Arab, bentuk
muzakar (laki-laki) yang berarti orang yang mengajak, kalau muanas (perempuan)
disebut Da'iyah.[13] Da’i
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang kerjanya berdakwah untuk
menyebarkan agama.[14]
Da’i adalah seseorang yang melakukan ajakan
atau orang yang menyampaikan ajaran (muballigh). Subjek dakwah merupakan unsur penting
dalam pelaksanaan dakwah karena seorang Da’i akan menjadi pemandu titian yang
mengemban misi risalah dan diserukan kepada objek dakwah dengan dalil yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Da’i dituntut mampu mengetuk dan menyentuh
hati umat yang dihadapinya secara profesional agar misi yang disampaikan dapat
diterima oleh umat.[15]
Berdasarkan konsep tersebut, pengertian Da'i
adalah seseorang yang mengajak ke jalan kebaikan, sesuai dengan akidah dan
hukum Islam baik melalui lisan, tulisan, atau perbuatan. Da’i merupakan
seseorang yang mengajak, mengundang manusia kepada agama Allah, yakni agar
manusia mau beriman dan melaksanakan ajaran-ajaran Allah SW dan menjauhi
larangan-larangan-Nya.
2.
Peran Da’i
Peran adalah suatu prilaku yang diharapkan
oleh orang lain dari seseorang yang menduduki status tertentu. Sedangkan peranan
merupakan aspek dinamis kedudukan, yaitu seseorang dikatakan berperan apabila sudah
menjalankan hak dan kawajiban sesuai dengan kedudukannya. Kedudukan dan peran
saling keterkaitan, karena kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi
seseorang dalam suatu kelompok sosial.[16]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia peranan diartikan sebagai tindakan yang
dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa.[17]
Posisi peran lebih banyak menunjukan pada
fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai sesuatu proses seseorang menduduki suatu
posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peran. Peran tersebut meliputi
tiga hal yaitu:[18]
a. Peran meliputi
norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam
masyarakat. Peran dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang
membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
b. Peran merupakan
suatu konsep tentang apa yang didapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat
sebagai organisasi.
c. Peran juga dapat
dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial
masyarakat.
Berikut ini adalah jenis-jenis peran :
1)
Peran yang melekat dalam diri seseorang
Setiap orang memiliki macam-macam peran yang berasal dari pola-pola
pergaulan kehidupannya. Hal itu memiliki arti bahwa peran menentukan apa yang
diperbuat serta kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh masyarakat.
2)
Peran dalam pergaulan kemasyarakatan
Posisi seseorang dalam masyarakat (social-position)
merupakanunsur statis yang menunjukan tempat individu dalam organisasi
kemasyarakatan.
3)
Peran yang harus dianjurkan dan tidak dianjurkan
Dalam menjalankan suatu peran tertentu diharapkan oleh masyarakat agar
menggunakan cara-cara yang sesuai dengan mereka harapkan.[19]
3.
Tujuan Da’i
Tujuan menurut KBBI adalah sebuah arah,
haluan, ataupun maksud. Seorang Da’i dalam melakukan dakwah, pasti memiliki
tujuan yang ingin dicapai. Berikut ini adalah tujuan-tujuan dakwah seorang Da’i
:
a.
Mengajak umat manusia yang telah memeluk agama Islam untuk selalu
mengerjakan segala perintah Allah dan selalu mencegah atau meninggalkan perkara yang dilarang-Nya.
Berikut ini adalah firman Allah SWT QS. Al- Maidah (5) : 2 :
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäw(#q=ÏtéBuȵ¯»yèx©«!$#wurtök¤¶9$#tP#tptø:$#wuryôolù;$#wuryÍ´¯»n=s)ø9$#IwurtûüÏiB!#uä|Møt7ø9$#tP#tptø:$#tbqäótGö6tWxôÒsù`ÏiBöNÍkÍh5§$ZRºuqôÊÍur4#sÎ)ur÷Läêù=n=ym(#rß$sÜô¹$$sù4wuröNä3¨ZtBÌøgsãb$t«oYx©BQöqs%br&öNà2r|¹Ç`tãÏÉfó¡yJø9$#ÏQ#tptø:$#br&(#rßtG÷ès?¢(#qçRur$yès?urn?tãÎhÉ9ø9$#3uqø)G9$#ur(wur(#qçRur$yès?n?tãÉOøOM}$#Èbºurôãèø9$#ur4(#qà)¨?$#ur©!$#(¨bÎ)©!$#ßÏx©É>$s)Ïèø9$#ÇËÈ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan
haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang
qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali
kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.[20]
b.
Membaca mental agama Islam bagi kaum yang masih mualaf.
c.
Mengajak manusia untuk beriman kepada Allah ( memeluk agama Islam).
d.
Mendidik dan mengajar anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya.[21]
Tujuan dakwah Da’i tidak akan tercapai tanpa
adanya kemampuan yang mendasari. Dikatakan sebagai seorang Da’i jika memiliki
beberapa kemampuan untuk menunjang dakwahnya. Seorang Da’i tidak hanya pandai
dalam berbicara, tetapi juga berlandas pada hukum Islam. Sumber hukum Islam itu
ada dua yakni, Alquran dan hadis.
4.
Kriteria Da’i
Seorang Da’i tidak hanya melakukan dakwah melalui sebuah mimbar,
karena Da’i dijadikan sebagai panutan bagi mad'u. Akhlak, moral maupun etikanya
merupakan bagian dari dakwahnya. Seorang Da’i harus memiliki beberapa kriteria
dibawah ini, sehingga dirinyadikatakan sebagai seorang Da’i :
a.
Percaya dan yakin sepenuhnya kepada Allah. Hal yang dilakukan saat pertama kali sebagai
pengakuan bahwa kita percaya adalah mengucap kalimat syahadat.
b.
Menjalankan semua perintah dan menjauhi larangannya. Setelah kita
percaya dan mengimani-Nya didalam hati, tentunya kita juga akan melaksanakan
semua perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.
c.
Memandang martabat manusia. Dalam artian seorang Dai harus mempunyai
harus alim, dan memiliki sifat bersuka hati,lembut, toleran, tahu terima kasih, sabar, murah hati,
berani, mempunyai rasa percaya diri,erus terang dan jujur”.
d.
Mendekatkan manusia dengan Tuhan.
Semua sifa-sifat yang ada pada diri manusia akan mendekatkannya kepada
sang pencipta. Dengan demikian manusia harus mengembangkan sifat-sifat, karena
kedekatan manusia dengan Tuhan sesuai dengan kualitas-kualitas yang dimiliki.
e.
Memiliki kebulatan tekad. Dalam menjalankan dakwah Daimemiliki kebulatan tekad untuk
menjalaninya karena akan bertemu dengan situasi dan kondisi berbeda.[22]
B. Kristenisasi
1.
Pengertian Kristenisasi
Kata kristenisasi adalah padaan kata
islamisasi. Keduanya ini mengandung upaya sistematis untuk mengajak pihak lain,
baik kalangan internal maupun eksternal untuk menganut cara hidup masing-masing
agama yang dipropagandakan.
Dari segi istilah, kristenisasi merupakan
sebuah gerakan keagaaan yang bernuansa politik dan muncul setelah berakhirnya
perang salib dengan tujuan penyebaran agama Nasrani kepada semua komunitas
manusia di Dunia yakni, secara umum dan kepada muslim secara khusus, dengan
harapan dapat menegaskan kekuaasaan mereka terhadap bangsa-bangsa yang ada.
Kristenisasi adalah gerakan
yang dilakukan oleh pemeluk agama Kristen untuk mengajak pemeluk agama lain
berpindah ke agamanya. Kristen adalah agama yang paling banyak penganutnya,
jumlah keseluruhan mencapai 800 juta manusia. Dalam sejarah yang telah berusia
2000 tahun tersebar luas di muka bumi[23].
Agama Kristen memiliki tiga aliran utama, yaitu :
a.
Gereja
Roma Katolik, dalam aliran ini menganut konsep “Kuasa Mengejar Tuhan”. Konsep
ini berawal dari dalil bahwa Tuhan datang ke dunia dalam pribadi Yesus Kristus
untuk mengajarkan manusia tentang cara
mencapai keselamatan, yaitu tentang bagaimana mereka seharusnya hidup di dunia
ini agar dapat mencapai kehidupan yang
abadi dalam dunia yang akan datang. Ajaran ini merupakan gerbang ke arah
keselamatan, dan jika membuka gerbang inilah yang merupakan alasan pokok
kedatangan-Nya ke dunia ini.
b.
Gereja
Ortodoks Timur
Gereja Ortodoks Timur meliputi Gereja Albania,
Bulgaria, Yunani, Polandia, Rusia, Serbia dan Sinia. Keseluruhan gereja ini
merupakan satu persekutuan tunggal,
meskipun mereka mengurus dirinya sendiri. Konsep yang dimiliki Gereja Timur
adalah menggunakan hak istimewa sebanyak tujuh kali. Hal lain yang
membedakan anatara Gereja Timur dengan
Barat mengenai peranannya sebagai kuasa mengajar adalah berkenaan dengan
asarana-sarana untuk merumuskan dogma-dogmanya.
c.
Gereja
Kristen Protestan
Agama Protestan muncul dimulai dari adanya
sebab-sebab perpecahan agama Gereja Roma Katolik. Ada banyak persamaan antara
agama Protestan dengan agama Roma Katolik dan Ortodoks Timur. Dalam garis besar
sejarah iman dan peribadatan Kristennya, ditinjau secara umum, maka agama
Protestan terutama lebih bersifat Kristen daripada bersifat Pretestan.[24]
Berdasarkan kutipan tersebut, setiap aliran
dari agama Kristen memiliki konsep ajaran yang berbeda-beda. Namun agama
Kristen tetap perlu diwaspadai ketika berkaitan pergerakan misionaris. Pergerakan
tersebut bisa mengancam akidah dan hukum Islam.
2.
Peran
Kristenisasi
Penyiaran agama harus dibarengi kesadaran
hidup dalam masyarakat pluralistik. Misi bagi umat Kristen adalah tugas suci
dan perintah agung untuk memenuhi perintah Tuhan tersebut.berikut ini adalah
ayat yang menjadi acuan proses kristenisasi yang dilakukan oleh pemeluk agama
Kristen. Hal ini sesuai dalam paradigma lama agama Kristen.“Pergilah dan
ciptakanlah pengikut dari segala bangsa, lakukan penabsihan kepada mereka atas
nama bapak dan anak serta roh kudus”.[25]
Berdasarkan pernyataan tersebut, adanya
kristenisasi adalah suatu peran yang dimainkan untuk mencari sebanyak-banyaknya
penganut agama Kristen. Menurut Paul Knitter “pengkristenan bukanlah tujuan
akhir dari Kristen, yang lebih penting adalahuntuk meningkatkan derajat manusia,
yakni agar lebih dekat kepada Tuhan.”[26]
3.
Misi Agama Kristen
Indonesia merupakan negara tempat kegiatan
misi pencapaian kemajuan yang luar biasa, begitu pandangan sebagian misionaris
Kristen. Misi Kristen di Indonesia hampir bebarengan dengan proses kolonialisasi orang Eropa. Misi ini
lebih terbuka, elegan dan canggih.
Contohnya di Jawa, agama Kristen masuk melalui
penetrasi budaya Jawa. Sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan tanpa adanya
sikap toleransi terhadap budaya warga setempat.
Einer M Sitompul mengatakan “Misi ini menekankan pada aspek pemberitaan dalam arti memberikan kabar
baik dan pusat penyiaran adalah Injil (gospel) yang pada intinya adalah
menyampaikan kabar baik kepada semua orang”.[27]
Misi ini muncul akibat merebaknya kezaliman dan penyelewengan-penyelewengan
kemanusiaan.
Misi bagi pemeluk agama Kristen adalah tugas
suci (holy burden) dan great comision (perintah agung) memenuhi
perintah Tuhan, “Pergilah dan ciptakan pengikut dari segala
bangsa, lakukan penahbisan kepada mereka atas nama bapak dana anak serta roh
kudus”.[28] Ini
adalah ayat yang menjadi acuan atau dasar proses kristeniasasi dan conversi
dalam paradigma serta kesejahteraan manusia. Berikut ini adalah beberapa metode
dan strategi pada misi Kristen di akhir abad ke-19 yang oleh Krel Antony Steenbrink
sebut sebagai abad misi, yakni :
Pertama, fokus operasional wilayah misi adalah
wilayah yang masih “gadis” atau “pagan” dan belum dimasuki oleh dakwah agama lain.
Kedua,adanya dukungan langsung maupun tidak dari koloni Belanda. Ketiga,adanya
dukungan politik maupun finansial pemerintah Prancis melalui misi khusus dengan
berkedok “meletakkan
semua agama dalam posisi yang sama” padahal kenyataannya tidak. Keempat,menggunakan strategi akomondatif
terhadap budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Kelima,menunjukkan
keikhlasan yang mengagumkan dalam melaksanakan panggilan Yesus. Mereka rela
mengorbankan diri, harta bahkan keluarga.[29]
Misi-misi tersebut
adalah bagian dari propaganda yang dilakukan unutk mengelabuhi pemeluk agama
lain. Harapan dan tujuan dalam proses misi Kristen adalah untuk pembinaan umat
Kristen agar tetap menjaga dan mengemban prinsipnya serta melahirkan atau
menambah penganut baru bagi agamanya.
4.
Misionaris Kristen
Sejumlah penduduk
dan penyebar propanganda teologi biasanya menyebutkan adanya perubahan doktrin
dalam agama Kristen. Menurut Pendeta
Joas Adiprasetya, M.TH., menyatakan bahwa “Deklarasi Katolik mengenai hubungan
Gereja dengan agama-agama non-Kristen mencatat suatu sikap baru Gereja Katolik
yang amat keterbukaan (inklusif) dan menerima kebaikan-kebaikan dalam
agama-agama lain”.[30] Hal
tersebut dinyatakan dalam teks Konsili
Vatikan II sebagai berikut :
“Gereja Katolik tak menilai apa pun yang benar
dan kudus dalam agama-agama ini. Ia menyikapi dengan rasa hormat yang tulus
jalan-jalan perilaku dan kehidupan ini, aturan-atutan dan ajaran-ajaran yang
sekalipun berbeda dalam banyak segi dari yang dipegang dan diteruskan oleh
Gereja, namun kerap memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua manusia”.[31]
Mencermati teks itu, pertanyaan yang muncul
adalah mengapa teks tersebut berbeda dengan kenyataan di lapangan. Jika kaum
mereka mengakui bahwa Islam dan agama-agama non-Kristen diakui sebagai jalan
kebenaran dan keselamatan, mengapa mereka begitu antusias dan menggebu-gebu
untuk tetap melakukan kegiatan misionaris atau penyebaran pengetahuan Injil
kepada mereka yang belum mengenal Kristus, di berbagai negara Islam.
Pertama, Paus John Paul II mengeluarkan fatwa
gerejani agar kaum Katolik mengambil tindakan untuk menyebarkan ajaran Katolik.
Ia menegaskan bahwa pentingnya melakukan kristenisasi terhadap semua negara,
termasuk negara yang menganut agama Islam dan adanya larangan perpindahan
agama. Kedua, Paus Yohannes Paulus
mengakui bahwa manusia yang tidak mengenal injil terus bertambah. Ketiga, kaum Kristen mainstream sudah
melepaskan ideologi eksklusif mereka yaitu tentang pengakuan bahwa hanya agama
mereka yang paling benar, ini hanya sebuah mitos. Keempat, adanya keraguan di kalangan Kristen tentang teologi
pluralis. Teologi pluralis adalah konsep benar atau tidaknya jalan keselamatan
juga dapat dilalui tanpa beriman kepada Kristus. Kelima, tetap menunjukan konsep Konsili Vantikan II, tetapi kaum
Kristen menolak mengajarakan agama Islam di sekolah Kristen.[32]
Berdasarkan kutipan diatas, fakta yang terjadi adalah adanya aksi
permurtadan yang dilakukan oleh pemeluk agama Kristen bagi kaum muslimin.
Pemeluk agama kristen berupaya melakukan jebakan-jebakan untuk memperdaya agar
dapat meraih simpati, kemudian simpatisan tersebut beralih akidah mengikutinya.
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Jenis dan Sifat
Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian lapangan. Penelitian lapangan merupakan suatu penelitian, yang
kegiatannya meliputi pengamatan dan berpartisipasi secara langsung dalam
penelitian skala sosial kecil serta budaya setempat. Penelitian lapangan ini
pada hakekatnya merupakan metode untuk menemukan secara spesifik dan realis
tentang apa yang sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat.[33]
Penelitian yang akan dilakukan ini bertujuan untuk memecahkan
masalah-masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari.[34]
Jadi penulis akan mengamati dan berpartisipasi secara langsung ke lapangan.
Sifat penelitian ini digunakan untuk mengetahui peran Da’i dalam mengantisipasi
kristenisasi di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur yakni mengunakan penelitian deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan
data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati.[35] Penelitian
menggunakan deskriptif kualitatif
bertujuan untuk memandu penulis
mendapatkan data secara detail dan menyeluruh.
B. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam
penelitian ini ada dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah
data yang diperoleh dari tangan pertama sedangkan data sekunder adalah data
yang diperoleh dari tangan kedua.
a.
Data primer yang akan digunakan dalam penelitian ini diperoleh
dari hasil wawancara yang di lakukan oleh penulis kepada ustad atau tokoh agama,
dan warga Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur.
b.
Data sekunder yang akan digunakan dalam penelitian ini penulis
dapatkan dari data berupa buku-buku terkait peran Da’i dalam mengantisipasi
kristenisasi di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur.
C. Teknik Pengumpulan
Data
Teknik
pengumpulan adalah cara yang dilakukan untuk memperoleh data-data penelitian.
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian penulis adalah
sebagai berikut:
1.
Observasi
Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap
gejala-gejala yang diteliti. Obvservasi dapat dilakukan dengan langsung dan
tidak langsung. Karena diperlukan kecermatan dan ketelitian, dalam prateknya
observasi membutuhkan alat seperti, daftar catatan dan alat-alat elektronik,
kamera dan sebagainnya. Keuntungan yang didapatkan dari observasi adalah adanya
pengalaman yang mendalam, karena peneliti berhubungan secara langsung dengan
subjek penelititan.[36]
Observasi langsung adalah pengamatan dan pencatatan yang dilakukan
terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga
observasi berada bersama objek yang diselidiki. Observasi tidak langsung adalah
pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang
akan diselidiki misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian
slide dan rangkaian foto.
Penulis akan menggunakan observasi langsung dalam penelitian yang akan
dilakukan. Penulis melakukan observasi di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro
Kibang Lampung Timur. Penulis mengamati akhlak atau perilaku dari warga yang
ada di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur.
2.
Wawancara
Wawancara adalah suatu proses tanya dan jawab lisan antara dua orang
atau lebih yang dilakukan secara langsung. Wawancara dalam pengumpulan data
berguna untuk mendapatkan data dari tangan pertama, dan menjadi pelengkap untuk
data yang sudah dikumpulkan. Karena tujuan utama wawancara adalah untuk mendapatkan
informasi secara valid (sah atau
shahih).[37]
Wawancara adalah
teknik mendapatkan informasi secara langsung dari responden. Dalam penelitian
yang akan dilakukan ini, penulis menggunakan metode wawancara terpimpin (guided interview) yakni wawancara yang dilakukan
dengan cara membawa sederetan pertanyaan yang lengkap dan teperinci mengenai
peran Da’i dalam mengantisipasi kristenisasi di Desa Sumber Agung Kecamatan
Metro Kibang Lampung Timur.
3.
Dokumentasi
Proses pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen berupa
buku, catatan, arsip, surat-surat,majalah, surat kabar, jurnal, laporan
penelitian, dan lain-lain. Studi dokumentasi berproses dan berawal dari
menghimpun dokumen, memilih-milih dokumen sesuai dengan tujuan penulitian,
menerangkan dan mencatat serta menafsirkannya serta menghubung-hubungkannya
dengan fenomena lain.[38]
Dalam penelitian yang akan dilakukan ini, penulis mengumpulkan data
berupa catatan atau gambar kegiatan yang menerangkan peran Da’i dalam
mengantisipasi kristenisasi di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Lampung
Timur.
D. Teknik Penjaminan
Keabsahan Data
Demi terjaminnya keakuratan data, maka
peneliti akan melakukan keabsahan data. Data yang salah akan menghasilkan
penarikan kesimpulan yang salah, demikian pula sebaliknya, data yang sah akan
menghasilkan kesimpulan hasil penelitian yang benar. Tantangan bagi segala
jenis penelitian pada akhirnya adalah terwujudnya produksi ilmu pengetahuan
yang valid, sahih, benar dan beretika.[39]
Kebenaran atau validitas harus dirasakan
merupakan tuntutan yang terdiri dari tiga yakni: deskriptif, interpretasi, dan
teori dalam penelitian kualitatif. Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan
teknik pemeriksaaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaaan data didasarkan atas
sejumlah kriteria tertentu yaitu:
1.
Derajat
kepercayaan (Credibility)
Pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal
dari non kualitatif. Fungsinya untuk melaksanakan inkuiri sehingga tingkat
kepercayaan penemuannya dapat dicapai dan mempertunjukan derajat kepercayaan
hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda
yang sedang diteliti.
2. Keteralihan (Transferability)
3. Kebergantungan (Dependabiliy)
Kebergantungan merupakan substitusi istilah
realibilitas dalam penelitian non kualitatif, yaitu bila ditiadakan dua atau
bebrapa kali pengulangan dalam kondisi yang sama dan hasilnya secara esensial
sama. Sedangkan dalam penelitian kualitatif sangat sulit mencari kondisi yang
benar-benar sama. Selain itu karena faktor manusia sebagai instrumen, faktor kelelahan
dan kejenuhan akan berpengaruh.
4.
Kepastian (Confirmability)
Pada penelitian kualitatif kriteria kepastian atau
objektivitas hendaknya harus menekankan pada datanya bukan pada orang atau
banyak orang.
Untuk menjamin
keabsahan data penelitian yang akan dilakukan, penulis mengunakan teknik trianggulasi data. Teknik ini adalah salah satu cara untuk mengukur derajat
kepecayaan (Credibility) dengan membandingkan:
a.
Membandingkan data dari metode yang sama dengan sumber yang berbeda
dengan memanfaatkan teori lain untuk memeriksa data dengan tujuan penjelasan
banding.
b.
Membandingkan sumber data yang sama dengan observasi dengan data dari
wawancara.
c.
Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang
dikatakan secara pribadi dan
memanfaatkan peneliti atau pengamat lain untuk meluruskan dalam
pengumpulan data.
E. Teknik Analisa Data
Setelah data-data yang
di perlukan dalam penelitian terkumpul, maka data tersebut akan dianalisis dalam penelitian ini. Dalam
menganalisis data, peneliti menggunakan cara pertahapan secara berurutan dan
interaksionis, yang terdiri dari tiga alur kegiatan bersamaan yaitu:
pengumpulan data sekaligus reduksi data, display
(kategorisasi) dan mengambil kesimpulan atau verifikasi.[40]
Penelitian yang
akandilakukan ini hanya menampilkan data-data kualitatif, maka penulis
menggunakan analisis data induktif. Metode induktif adalah jalan berfikir
dengan mengambil kesimpulan dari data-data yang bersifat khusus............
[1]Acep Aripudin, Dakwah
Antarbudaya, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), cet I. h. 91.
[2]Yayasan
Penyelenggara Penerjemah/Pentafsir Al-Quran , Edisi Revisi, diterjemahkan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran
Departemen Agama RI, Al-Jumanatul
Ali Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung:
CV Penerbit J-Art, 2004), h. 282.
[3]Yayasan
Penyelenggara Penerjemah/Pentafsir Al-Quran , Edisi Revisi, diterjemahkan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran
Departemen Agama RI, Al-Jumanatul
Ali Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung:
CV Penerbit J-Art, 2004), h. 20.
[4]Jasafat. “Kontribusi Deawan
Dakwah Islamiyah Indonesia Aceh Dalam Menangkal Kristenisasi”, Al-Bayan. Aceh:
Komunikasi Universitas Islam Negeri
Ar-Raniry, No. 23/ Januari-Juli 2017.
[5]Wawancara dengan Sumarni,
warga Desa Sumber Agung pada tanggal
01-08-2018 di Sumber Agung, pukul 11.00 WIB.
[6]Syahidin., et al. Moral dan Kognisi Islam, (Bandung : CV
Alfabeta, 2009), h. 98.
[7]Wawancara dengan Yuyun, warga
Desa Sumber Agung pada tanggal 01-08-2018 di Sumber Agung, pukul 11.25 WIB.
[8]Wawancara dengan Yuyun, warga Desa
Sumber Agung pada tanggal 01-08-2018 di Sumber Agung, pukul 11.25 WIB.
[9]Zuhairi.,et.al, Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), Cet.1, h.39 .
[10]Resa
Fitriani, “Metode Dakwah Bil-Lisan Dalam Pencegahan Kristenisasi Di Desa Wawasan
Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan”, skripsi yang di sidangkan
pada 24 Mei 2016.
[11]Fitri Budi Utami, “Strategi Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia (DDI) Dalam Mengantisipasi Gerakan Permutadan
Di Kaliora”, skripsi yang di sidangkan pada 7 Agustus 2012.
[12] Ratna sari yang berjudul “Peran
Ustad Abu Deedat Syihab Dalam Mengantisipasi Gerakan Permurtadan Melalui
Fakta” skripsi yang disidangkan pada 03 Maret 2008.
[13]Enjang AS dan Aliyudin, Dasar-Dasar
Ilmu Dakwah: Pendekatan Filosofis Dan Praktis, (Bandung: Widya Padjadjaran,
2009), h. 73.
[14]Tim Penyusun Pusat Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
(Jakarta : Balai Pustaka, 2007), h. 231.
[15]Aris
Risdiana, “Transformasi Peran Da’i Dalam Menjawab Peluang Dan Tantangan”, Dakwah, (Yogyakarta: Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga), No. 15/ 2014, 438.
[17]Tim Penyusun Pusat Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
(Jakarta : Balai Pustaka, 2007), h. 854.
[19]Ibid.,
[20]Yayasan
Penyelenggara Penerjemah/Pentafsir Al-Quran , Edisi Revisi, diterjemahkan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran
Departemen Agama RI, Al-Jumanatul
Ali Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung:
CV Penerbit J-Art, 2004), h. 107.
[21]Samsul Munir Amin, Ilmu
Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), cet.
I. h. 62.
[30] Adian Husain M.A dan Nuim Hidayat, Islam Liberal, ( Jakarta: Gema Insani Press, 2002), cet 1. h. 112.
[33]Iqbal Hasan, Analisis
Data Penelitian Dengan
Statistik, (Jakarta, Bumi
Aksara 2004), h. 43.
[34]Dewi Sadiah, MetodePenelitianDakwah,
Pendekatan kualitatif dan kuantitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2015),
cet I, h. 13.
[35]Sugiono, Metode penelitian
kuantitatif dan kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2011),
h. 22.
[40]Dewi Sadiah, Metode Penelitian Dakwah, Pendekatan kualitatif dan
kuantitatif., h. 93-94.
Komentar
Posting Komentar